Limbah medis membawa risiko serius bagi tenaga kesehatan, pasien, pemulung, dan masyarakat umum jika tidak dikelola dengan benar. Risiko ini datang dari infeksi, luka benda tajam, paparan bahan kimia toksik, hingga radiasi dari bahan radioaktif yang digunakan di fasilitas kesehatan.
Baca juga topik limbah medis lainnya :
Pengolahan limbah medis menurut WHO dan regulasi Indonesia
Pengolahan limbah medis hazardous dan non-hazardous di rumah sakit
Limbah.id adalah one-stop environmental solution yang membantu fasilitas kesehatan dan industri mengurangi risiko kesehatan akibat limbah berbahaya. Layanan Limbah.id mencakup pengelolaan limbah B3 dan non-B3 (termasuk limbah medis), angkutan limbah dengan armada dan pengemudi bersertifikat B3, solusi pengolahan limbah anorganik bernilai kalor tinggi menjadi RDF, serta komposting terkontrol (in-vessel, windrow, dan teknologi lain) untuk limbah organik. Limbah.id juga mengoperasikan laboratorium lingkungan untuk uji kualitas air permukaan, air tanah, air bersih, limbah cair, udara ambien, kebisingan, dan emisi sumber tidak bergerak, serta menyediakan jasa penyusunan AMDAL dan UKL-UPL, pemenuhan baku mutu emisi dan air limbah, penyusunan dokumen teknis limbah B3, dan program sertifikasi/pelatihan kompetensi pengelolaan limbah B3 bagi penanggung jawab perusahaan.
Kelompok yang paling berisiko
Limbah medis dihasilkan saat diagnosis, perawatan, atau imunisasi manusia dan hewan, dan dapat berupa padat, cair, maupun gas. Kelompok yang paling sering terpapar adalah tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan, analis, petugas kebersihan), pasien dan pengunjung, pekerja pengangkut limbah, pemulung di TPA, dan masyarakat yang tinggal dekat lokasi pembuangan.
Berbagai kajian menunjukkan jutaan tenaga kesehatan setiap tahun terpapar patogen bawaan darah akibat alat tajam medis, termasuk paparan virus hepatitis B, hepatitis C, dan HIV. Di negara berkembang, pencampuran limbah medis dengan sampah domestik membuat pemulung dan masyarakat sekitar TPA ikut berisiko terinfeksi dan terpapar bahan toksik.
Infeksi dari limbah infeksius dan benda tajam
Persentase signifikan dari limbah rumah sakit tergolong infeksius, yaitu limbah yang terkontaminasi darah, cairan tubuh, kultur mikroba, jaringan tubuh, dan bahan lain yang mengandung patogen. Bila limbah ini tidak dipisahkan dan diolah dengan benar, patogen dapat menyebar ke petugas, pasien, pengunjung, dan lingkungan sekitar.
Sharps injury dan penularan HIV/HBV/HCV
Limbah tajam (jarum, pisau bedah, jarum infus, pecahan kaca) sangat berbahaya karena dapat melukai kulit dan langsung memasukkan darah atau cairan terkontaminasi ke dalam tubuh. Cedera tertusuk jarum atau luka benda tajam terbukti menjadi jalur penularan utama HIV, hepatitis B, dan hepatitis C di fasilitas kesehatan.
Di banyak negara, termasuk Indonesia, masih ditemukan penggunaan dan pembuangan jarum suntik yang tidak aman. Jarum bekas yang tidak dikelola dengan baik dapat diambil kembali, dijual, dan digunakan ulang, memperluas mata rantai penularan penyakit infeksius ke masyarakat.
Infeksi di masyarakat dan pemulung
Pembuangan limbah medis secara sembarangan di lahan terbuka atau TPA tanpa segregasi menyebabkan kontaminasi ke pemulung, anak-anak yang bermain, dan hewan. Kontak dengan perban berdarah, alat tajam, atau sisa jaringan dapat memicu penyakit seperti hepatitis, infeksi kulit, TBC, dan infeksi saluran pernapasan.
Pembakaran terbuka limbah medis juga dapat menyebarkan partikulat dan aerosol yang membawa patogen serta partikulat halus yang mengganggu saluran napas, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Paparan bahan kimia toksik
Limbah medis tidak hanya berisi limbah infeksius, tetapi juga limbah kimia berbahaya seperti disinfektan kuat, pelarut, reagen laboratorium, obat sitotoksik, logam berat (misalnya merkuri dari termometer lama dan amalgam gigi), serta sisa obat-obatan farmasi. Paparan bahan kimia ini bisa terjadi melalui kulit, inhalasi uap/gas, maupun tertelan secara tidak sengaja.
Dampak pada tenaga kesehatan dan pekerja limbah
Tenaga kesehatan, petugas kebersihan, dan operator pengolahan limbah dapat mengalami iritasi kulit dan saluran napas, gangguan saraf, kerusakan organ, hingga efek karsinogenik bila sering terpapar bahan kimia seperti formaldehida, pelarut organik, dan obat sitotoksik tanpa APD memadai. Paparan kronis obat sitotoksik pada petugas yang menyiapkan atau membuangnya dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan reproduksi dan efek mutagenik.
Jika limbah kimia dibuang ke saluran air atau tanah tanpa pengolahan, zat-zat ini dapat mencemari air tanah dan air permukaan, lalu masuk ke rantai makanan melalui air minum, ikan, atau hasil pertanian. Masyarakat sekitar yang mengonsumsi sumber air tercemar berisiko mengalami kerusakan organ, gangguan endokrin, atau efek toksik lainnya.
Radiasi dari limbah radioaktif medis
Limbah radioaktif berasal dari penggunaan radionuklida di radiologi diagnostik, kedokteran nuklir, dan radioterapi, misalnya dalam bentuk sumber tertutup bekas, cairan terkontaminasi, bahan sekali pakai, dan APD yang terkena radiasi. Bila tidak disimpan, didekontaminasi, dan dibuang sesuai aturan, radiasi dapat bocor ke petugas, pasien, dan lingkungan.
Paparan radiasi dosis tinggi dalam waktu singkat dapat menimbulkan luka bakar radiasi dan sindrom radiasi akut, sedangkan paparan dosis rendah berulang meningkatkan risiko kanker dan kelainan genetik jangka panjang. Bahan radioaktif yang masuk ke air atau tanah dapat menyebar jauh dari sumber dan memengaruhi komunitas yang tidak pernah mengunjungi fasilitas kesehatan tersebut.
Polusi udara, air, dan tanah
Insinerasi limbah medis yang tidak memenuhi standar emisi dapat melepaskan dioksin, furan, logam berat, dan partikulat yang bersifat karsinogenik dan toksik ke udara. Zat-zat ini dapat terakumulasi dalam rantai makanan, misalnya melalui ikan atau produk hewan lain, dan menimbulkan efek kesehatan jangka panjang.
Pembuangan limbah medis ke TPA tanpa lapisan kedap dan sistem pengelolaan lindi menyebabkan pencemaran air tanah dan air permukaan oleh patogen, logam berat, dan bahan kimia. Perubahan kualitas tanah di sekitar lokasi pembuangan juga dilaporkan, termasuk penurunan kesuburan dan keanekaragaman hayati tumbuhan akibat kontaminasi limbah medis.
Peran sistem pengelolaan limbah yang baik
Segregasi limbah di sumber, penggunaan kantong dan wadah berlabel dengan kode warna, serta pengumpulan dan transportasi oleh petugas terlatih terbukti menurunkan risiko infeksi dan paparan bahan berbahaya bagi tenaga kesehatan dan masyarakat. Pelatihan rutin, penyediaan APD (sarung tangan, masker, pelindung mata, apron, sepatu boot), dan prosedur penanganan benda tajam sangat penting untuk menekan angka sharps injury.
Teknologi pengolahan seperti autoclave, microwave, desinfeksi kimia, dan insinerasi berizin, bila dioperasikan sesuai standar, dapat mengurangi beban patogen dan toksin sebelum limbah dibuang ke lingkungan. Namun, tanpa sistem manajemen yang lengkap (segregasi, logistik, pengolahan, dan pemantauan), teknologi saja tidak cukup untuk melindungi kesehatan manusia.
Bagaimana Limbah.id membantu mengurangi risiko kesehatan
Limbah.id mendukung fasilitas kesehatan mengurangi risiko infeksi, paparan toksik, dan radiasi dengan menyediakan layanan pengelolaan limbah B3 dan non-B3 dari tahap pengumpulan, transportasi, hingga pengolahan akhir. Armada pengangkut dan pengemudi yang tersertifikasi B3 memastikan limbah berbahaya tidak bocor ke lingkungan selama perjalanan, sehingga melindungi masyarakat di sepanjang rute.
Melalui laboratorium lingkungan, Limbah.id melakukan pemantauan kualitas air, udara, kebisingan, dan emisi cerobong untuk mendeteksi dini dampak polusi dari aktivitas medis dan pengolahan limbah. Layanan penyusunan AMDAL, UKL-UPL, pemenuhan baku mutu emisi dan air limbah, penyusunan dokumen teknis limbah B3, serta pelatihan dan sertifikasi kompetensi pengelolaan limbah B3 membantu rumah sakit dan industri mematuhi regulasi sekaligus membangun budaya kerja yang lebih aman bagi tenaga kesehatan, pasien, pemulung, dan masyarakat luas.




1 COMMENTS