Tailings Dam Failure: Penyebab, Dampak, dan Pelajaran Mitigasi untuk Pengelolaan Limbah Padat Tambang
Limbah padat tambang seperti tailings sering dikelola di tailings storage facility. Ketika fasilitas ini gagal, dampaknya bisa menyebar cepat dan sulit dipulihkan.
Tailings dam failure menjadi perhatian utama karena bisa memicu pencemaran berat, kerugian ekonomi, dan korban jiwa. Kejadian seperti ini juga mengganggu operasional tambang bertahun-tahun setelah insiden terjadi.
Baca juga :
Panduan Lengkap Pengelolaan Limbah Pertambangan: Konsep, Risiko, dan Rencana Kepatuhan
Contoh Limbah Pertambangan: Jenis, Sumber, dan Dampaknya di Lapangan
Di banyak lokasi, pertanyaan pentingnya bukan hanya “apakah dam ini kuat”, tetapi “apakah cara operasinya konsisten”. Alih-alih fokus pada pembangunan awal saja, perhatian yang sama besar perlu diberikan pada raising, manajemen air, inspeksi, dan kesiapan darurat.
Artikel ini membahas alasan kegagalan bendungan tailings menjadi isu besar, perbedaan risiko pada metode raising, dampak langsung dan dampak lingkungan jangka panjang, lalu ditutup dengan checklist mitigasi yang bisa dipakai sebagai pegangan praktis.
Mengapa tailings dam failure jadi perhatian utama
Tailings dam failure disebut sebagai salah satu kekhawatiran utama industri tambang karena konsekuensinya bisa ekstrem. Sekali terjadi kegagalan, material tailings dapat bergerak sebagai aliran lumpur, merusak fasilitas, permukiman, dan ekosistem dalam waktu singkat.
Tailings sendiri bukan tanah biasa. Tailings berasal dari proses pengolahan mineral, sehingga bisa mengandung sisa reagen proses dan unsur berbahaya. Ini membuat risiko lingkungan tidak berhenti saat aliran lumpur berhenti.
Kenapa dampaknya bisa melebar
Ada tiga alasan utama.
- Volume besar: tailings ditimbun terus selama operasi tambang.
- Air: fasilitas tailings banyak berinteraksi dengan air hujan, air proses, dan aliran permukaan.
- Kontaminan: unsur seperti arsenik dan timbal dapat terbawa air dan sedimen.
Dalam konteks Indonesia, curah hujan tinggi membuat pengendalian air di area TSF menjadi tantangan harian. Jika pengelolaan air tidak disiplin, risiko meningkat karena tekanan air pori dan limpasan dapat berubah cepat.
Metode raising dan perbedaan risikonya
Raising adalah cara meninggikan tanggul tailings seiring bertambahnya volume simpan. Ada tiga pendekatan yang umum dikenal: upstream, center-line, dan downstream.
Gambaran singkat tiap metode
- Upstream raising: penambahan tanggul mengarah ke dalam area impoundment, memanfaatkan endapan tailings sebagai bagian dari fondasi.
- Center-line raising: penambahan material dilakukan di garis tengah tanggul yang sudah ada.
- Downstream raising: penambahan tanggul mengarah ke luar impoundment, biasanya butuh material lebih banyak.
Mengapa upstream raising sering dianggap lebih berisiko
Upstream raising dikenal lebih hemat material dan biaya, sehingga banyak dipilih di berbagai negara. Namun, beberapa kajian menyebutkan metode upstream lebih mungkin gagal dibanding metode raising lainnya.
Alasan yang sering dibahas adalah ketergantungannya pada kondisi tailings yang sudah terendapkan. Jika tailings masih lunak, jenuh, atau tidak terkonsolidasi dengan baik, fondasi untuk raising berikutnya menjadi lebih lemah.
Metode center-line dan downstream umumnya memberi margin stabilitas lebih baik karena struktur tambahan lebih banyak bertumpu pada material di luar impoundment atau pada embankment yang lebih “engineered”. Tetapi, kebutuhan lahan dan material juga cenderung meningkat.
Penyebab umum tailings dam failure
Istilah “penyebab” di sini perlu dipahami sebagai gabungan dari desain, operasi, dan kondisi alam. Satu faktor jarang berdiri sendiri.
Faktor teknis yang sering terlibat
- Manajemen air yang buruk: genangan, limpasan, atau sistem drainase yang tidak berfungsi.
- Raising tidak terkendali: elevasi tidak sesuai rencana, penempatan material tidak konsisten, atau jadwal raising terlalu agresif.
- Fondasi lemah: area dasar atau dinding samping tidak dipersiapkan dengan baik.
- Material konstruksi tidak sesuai: misalnya penggunaan material yang mudah tererosi atau tidak dipadatkan memadai.
Faktor alam dan operasional
- Hujan ekstrem yang memicu overtopping atau erosi.
- Gempa atau getaran yang mempengaruhi kestabilan, terutama pada material jenuh.
- Perubahan karakter tailings: komposisi halus, kadar air, dan perilaku aliran bisa berubah seiring perubahan proses pabrik.
Untuk site dengan musim hujan panjang, pekerjaan kecil seperti menjaga saluran air terbuka dan memastikan pompa berfungsi bisa menjadi pembeda besar.
Dampak langsung: korban jiwa dan kerusakan fisik
Dampak langsung adalah yang terlihat saat kejadian dan beberapa hari setelahnya. Ini meliputi korban jiwa, cedera, serta kerusakan fasilitas fisik seperti jalan, jembatan, bangunan, dan peralatan tambang.
Beberapa laporan kasus menunjukkan kegagalan tailings dam dapat menimbulkan korban dalam jumlah besar. Dalam satu contoh di Tiongkok, kegagalan impoundment tailings besi pada 10 Agustus 2008 di Provinsi Shanxi dilaporkan menewaskan ratusan orang.
Selain korban manusia, kerusakan fisik sering menghambat akses ke area tambang. Ini membuat respons darurat dan pemulihan jadi lebih lambat.
Dampak lingkungan jangka panjang
Dampak lingkungan sering berlangsung jauh lebih lama daripada berita insidennya. Bahkan setelah aliran berhenti, kontaminan bisa tetap berada di sedimen, tanah, dan air.
Kontaminan seperti As dan Pb
Dalam beberapa kajian, kebocoran kontaminan seperti arsenik dan timbal dari kegagalan tailings dam dapat memperluas risiko kesehatan dan ekologi. Kontaminan ini dapat masuk ke sistem air, kemudian berpindah melalui sedimen.
Jika tailings mengandung material beracun, masalahnya bukan hanya konsentrasi, tetapi juga jalur perpindahan. Air hujan dan aliran sungai bisa menjadi “kendaraan” yang memindahkan kontaminan ke hilir.
Dampak pada air dan biota
Contoh yang sering dikutip adalah insiden Aznalcóllar di Spanyol pada 1998, ketika kegagalan bendungan tailings menyebabkan polutan menyebar luas di satu DAS. Dampak langsung pada biota yang dilaporkan termasuk kematian ikan dan kerang di aliran yang tercemar.
Ada juga kejadian Baia Mare di Rumania pada 2000, yang melaporkan masuknya puluhan hingga ratusan ton sianida dan unsur logam ke catchment dan menyebabkan kontaminasi berat serta kematian ikan. Sianida sangat toksik, sehingga pada beberapa rekomendasi, limbah sianida disarankan ditangani sebelum ditimbun di impoundment.
Dampak pada sedimen dan lahan pertanian
Setelah banjir tailings, sedimen bisa membawa kontaminan dan menutup lahan. Salah satu contoh yang dilaporkan adalah kegagalan dam tailings di wilayah Pb-Zn di Chenzhou, Tiongkok pada 1985 setelah hujan lebat, yang mengendapkan lapisan sludge hitam sekitar 15 cm pada area pertanian di sepanjang lembah sungai.
Dalam kasus itu, sebagian lahan diremediasi, tetapi sebagian tidak. Pengukuran beberapa tahun kemudian pada lahan yang tidak diremediasi dilaporkan menunjukkan konsentrasi unsur meningkat dan melewati standar ambang tertentu, sehingga mengganggu keamanan tanah dan tanaman.
Di Indonesia, aspek lahan pertanian sering sensitif karena banyak wilayah tambang berada dekat kebun, sawah, atau sumber air warga. Jadi, dampak pada tanah bukan sekadar isu teknis, tetapi juga isu sosial.
Pengalaman Limbah.id di awal mitigasi (bagian awal)
Di Limbah.id, kami melihat bahwa pencegahan insiden besar sering dimulai dari pekerjaan dasar yang rapi. Terutama untuk limbah padat, data dan kontrol rutin perlu dibuat sederhana agar bisa dijalankan setiap hari. Kami bekerja sebagai one-stop environmental solution melalui Waste Management, Licensing, Certification, dan Laboratorium. Untuk kebutuhan kepatuhan, Licensing membantu menyiapkan AMDAL, UKL-UPL, RKL-RPL, SPPL, DELH, DPLH, serta Rintek Limbah B3 agar rencana pengelolaan dan pemantauan tidak hanya bagus di dokumen, tetapi juga bisa diterjemahkan menjadi jadwal kerja lapangan. Laboratorium mendukung testing dan monitoring sehingga perusahaan punya dasar yang jelas saat menilai potensi kontaminan. Saat perusahaan juga memiliki aliran limbah elektronik, pendekatan yang sama membantu menyatukan pengendalian limbah padat dan kewajiban kepatuhan dalam satu sistem kerja yang lebih tertib.
Checklist mitigasi berbasis praktik
Checklist ini bukan pengganti desain profesional. Namun bisa menjadi pegangan awal bagi tim operasional dan manajemen untuk mengurangi risiko sehari-hari.
1) Inspeksi rutin yang disiplin
- Periksa retakan, penurunan, rembesan, dan erosi pada tanggul.
- Pastikan saluran drainase bersih dari sedimen dan tanaman liar.
- Catat temuan dan tindak lanjut, bukan hanya foto.
2) Manajemen air yang jelas
- Kelola freeboard, yaitu jarak aman antara permukaan air dan puncak tanggul.
- Pastikan sistem pompa dan pembuangan air siap saat hujan tinggi.
- Pisahkan aliran air bersih dari catchment luar agar tidak masuk ke area TSF.
3) Kontrol raising dan elevasi
- Pastikan raising mengikuti rencana, termasuk material yang dipakai dan cara pemadatan.
- Jangan menaikkan tanggul lebih cepat dari kemampuan konsolidasi dan kontrol air.
- Audit perubahan operasi pabrik yang dapat mengubah sifat tailings.
4) Monitoring yang mudah dipahami
- Pasang titik ukur deformasi dan rembesan yang hasilnya bisa dibaca rutin.
- Gunakan tren, bukan satu angka, untuk melihat tanda bahaya lebih awal.
- Pastikan ada batas ambang internal untuk eskalasi.
5) Rencana darurat yang benar-benar siap
- Definisikan skenario: overtopping, rembesan besar, longsor tanggul, dan hujan ekstrem.
- Tetapkan jalur evakuasi, titik kumpul, dan pembagian peran.
- Lakukan latihan berkala bersama tim internal dan pihak terkait di sekitar area.
Rencana darurat yang baik biasanya sederhana, tetapi dijalankan rutin. Kertas yang tebal tidak membantu jika tidak dipahami tim jaga malam.
Pengalaman Limbah.id di tengah artikel (bagian tengah)
Kami memahami bahwa setelah insiden, pertanyaan pertama sering berkaitan dengan data: apa yang keluar, ke mana menyebar, dan apa dampaknya. Di Limbah.id, peran Laboratorium menjadi penting untuk testing dan monitoring, terutama ketika perusahaan perlu memastikan parameter lingkungan tetap terkontrol. Lalu, Licensing membantu memastikan dokumen seperti baku mutu emisi, baku mutu air limbah, serta dokumen seperti AMDAL, UKL-UPL, RKL-RPL, SPPL, DELH, DPLH dan Rintek Limbah B3 tersusun sesuai kebutuhan kepatuhan. Dari sisi penguatan organisasi, Certification seperti Sertifikasi BNSP untuk personil dan Sertifikasi ISO untuk entitas membantu perusahaan membangun sistem kerja yang konsisten. Di beberapa sektor, kebutuhan ini juga berjalan beriringan dengan pengelolaan limbah elektronik, sehingga kontrol limbah padat dan administrasi kepatuhan bisa dijalankan dalam satu jalur kerja yang rapi.
Penutup
Tailings dam failure adalah risiko besar karena dampaknya bisa mengancam nyawa, merusak aset, dan meninggalkan pencemaran jangka panjang. Metode raising berpengaruh pada profil risiko, dan upstream raising sering disebut lebih rentan dibanding center-line dan downstream.
Mitigasi paling kuat biasanya gabungan antara desain yang baik dan operasi yang disiplin. Inspeksi rutin, manajemen air, kontrol raising, monitoring yang konsisten, serta rencana darurat yang diuji adalah paket yang saling melengkapi.
Jika Anda sedang menyusun sistem pengelolaan limbah padat tambang, fokuskan pada hal yang bisa dijalankan setiap hari. Kebiasaan kecil yang konsisten sering menjadi pelindung paling efektif dari risiko besar.
Pengalaman Limbah.id
Di Limbah.id, kami melihat bahwa pengelolaan limbah padat yang aman perlu ditopang oleh layanan yang saling terhubung. Karena itu, kami hadir sebagai one-stop environmental solution melalui Waste Management, Licensing, Certification, dan Laboratorium. Untuk perusahaan yang perlu merapikan pengelolaan limbah B3 dan non-hazardous waste, Waste Management membantu menata alur penanganan agar terdokumentasi. Laboratorium mendukung testing dan monitoring sehingga keputusan pengendalian lingkungan berbasis data. Licensing membantu penyusunan AMDAL, UKL-UPL, RKL-RPL, SPPL, DELH, DPLH, serta Rintek Limbah B3 agar dokumen pengelolaan dan pemantauan dapat mengikuti realitas operasi. Pada perusahaan yang juga menangani limbah elektronik, pendekatan yang sama membantu menjaga kepatuhan dan keteraturan data, terutama saat ada audit atau kebutuhan pelaporan keberlanjutan.




