Kenapa Sampah Elektronik Berisiko: Bahan Berbahaya, Dampak Lingkungan, dan Dampak Kesehatan
Limbah elektronik berbahaya bukan karena bentuknya menyeramkan, tetapi karena isi di dalamnya bisa memicu dampak jika salah kelola.
Di rumah, sampah elektronik sering terlihat “aman” karena tidak bau dan tidak basah. Padahal, saat perangkat pecah, bocor, dibongkar, atau dibakar, komponen tertentu bisa lepas ke lingkungan. Di sinilah risikonya mulai muncul.
Baca juga info lain tentang limbah elektronik
Jenis, Komposisi, dan Risiko Limbah Elektronik di Indonesia
Banyak orang juga mengira yang berisiko hanya pabrik atau tempat pembuangan besar. Kenyataannya, risiko paling sering berawal dari langkah kecil: mencampur perangkat elektronik ke sampah biasa, atau menyerahkannya ke jalur bongkar informal yang tidak punya perlindungan memadai.
Di artikel ini, kami membahas alasan utamanya. Mulai dari bahan berbahaya yang sering dibahas, dampak ke tanah dan air, sampai dampak ke kesehatan.
Apa yang membuat sampah elektronik “berisiko”
Sampah elektronik adalah perangkat listrik dan elektronik yang sudah rusak, usang, atau tidak dipakai lagi.
Risiko muncul karena perangkat ini adalah campuran banyak bahan. Ada bahan yang bernilai, seperti logam tertentu. Ada juga bahan yang termasuk toksik, yaitu zat yang bisa mengganggu kesehatan manusia atau merusak lingkungan bila terpapar dalam jumlah tertentu.
Risiko bukan berarti selalu langsung “beracun”
Istilah “berbahaya” sering terdengar seperti ancaman langsung. Padahal, banyak komponen baru menjadi masalah ketika:
- Perangkat dihancurkan atau dibongkar tanpa prosedur.
- Komponen dibakar untuk mengambil logam.
- Perangkat dibuang ke landfill tanpa pemilahan, lalu terpapar air hujan dalam waktu lama.
Karena itu, manajemen yang rapi sejak awal adalah kunci. Pemilahan dan jalur penanganan yang sesuai bisa menurunkan risiko secara signifikan.
Komponen berbahaya yang sering dibahas
Berikut beberapa contoh komponen berbahaya yang paling sering disebut dalam diskusi sampah elektronik. Penjelasannya dibuat sederhana agar mudah dipahami.
Logam berat: timbal, merkuri, kadmium
Logam berat adalah kelompok logam yang pada kadar tertentu dapat mengganggu fungsi tubuh dan dapat bertahan lama di lingkungan.
Timbal sering dikaitkan dengan komponen tertentu pada perangkat lama dan material penyolderan. Paparan kronis timbal berhubungan dengan dampak pada saraf, ginjal, dan perkembangan anak.
Merkuri dapat ditemukan pada komponen tertentu seperti lampu dan beberapa display. Jika masuk ke perairan, merkuri bisa berubah menjadi bentuk yang lebih toksik dan dapat menumpuk di rantai makanan, terutama pada ikan.
Kadmium sering dikaitkan dengan baterai isi ulang dan papan sirkuit. Kadmium dapat bertahan di lingkungan dan berhubungan dengan gangguan ginjal, gangguan pernapasan, dan pelemahan tulang.
Bahan kimia pada plastik dan papan sirkuit
Banyak perangkat memakai plastik yang ditambah zat aditif agar tidak mudah terbakar. Salah satu kelompok yang sering dibahas adalah brominated flame retardants atau BFR.
Masalahnya, bahan ini dapat bertahan lama di lingkungan. Ketika perangkat dibakar, bahan ini berpotensi melepas gas beracun dan polutan berbahaya seperti dioksin dan furan.
Ada juga bahan kimia lain pada perangkat tertentu, misalnya polychlorinated biphenyls atau PCB pada komponen lama. PCB termasuk polutan persisten yang bisa menumpuk di lingkungan dan dikaitkan dengan gangguan kesehatan yang serius.
Refrigerant pada alat pendingin
Untuk perangkat seperti kulkas dan AC, risiko tidak hanya dari papan elektroniknya. Ada juga refrigerant, yaitu gas pendingin. Pada perangkat lama, ada jenis refrigerant tertentu yang jika dilepas bisa berdampak pada lingkungan.
Karena itu, alat pendingin membutuhkan penanganan yang lebih hati-hati dibanding perangkat kecil seperti ponsel atau charger.
Baca juga : Contoh limbah pertambangan
Dampak lingkungan: tanah, air, dan udara
Di banyak kasus, dampak lingkungan terjadi bertahap. Bukan dalam satu hari.
Namun begitu terjadi, pemulihannya bisa lama. Dan biayanya bisa tinggi.
Pencemaran tanah
Jika sampah elektronik dibuang ke landfill atau timbunan terbuka, zat tertentu bisa keluar perlahan. Proses ini sering disebut “leaching”, yaitu perembesan zat dari material padat ke lingkungan akibat air.
Timbal, kadmium, dan beberapa bahan kimia lain dapat bertahan lama. Jika mencemari tanah, dampaknya bisa merembet ke tanaman, dan pada akhirnya ke rantai makanan.
Dalam konteks Indonesia, risiko ini makin relevan karena masih banyak wilayah yang memiliki pengelolaan sampah campuran. Saat sampah tercampur, kontrol terhadap fraksi berbahaya menjadi lebih sulit.
Pencemaran air: sungai, air tanah, dan rantai makanan
Air adalah jalur penyebaran yang cepat. Zat yang merembes bisa terbawa ke saluran air, sungai, atau meresap ke air tanah.
Ketika logam berat masuk ke perairan, sebagian bisa mengendap, sebagian bisa masuk ke organisme air. Lalu, zat itu bisa menumpuk pada ikan dan biota lain. Inilah yang disebut bioaccumulation, yaitu penumpukan zat di tubuh makhluk hidup dari waktu ke waktu.
Bila ikan atau organisme tersebut dikonsumsi, risiko berpindah ke manusia. Karena itu, masalah sampah elektronik tidak berhenti di lokasi pembuangan.
Emisi saat dibakar sembarangan
Di beberapa tempat, pembakaran dilakukan untuk mengambil tembaga dari kabel atau mengambil bagian logam lainnya.
Masalahnya, pembakaran terbuka tidak memiliki kontrol emisi. Pembakaran dapat melepaskan partikel halus dan gas berbahaya. Jika plastik yang mengandung aditif tertentu ikut terbakar, risiko polutan seperti dioksin dan furan juga meningkat.
Emisi ini tidak hanya mengganggu lingkungan. Ia juga menjadi pintu paparan bagi manusia yang tinggal atau bekerja di sekitar lokasi.
Dampak kesehatan: siapa yang paling berisiko
Risiko kesehatan biasanya paling tinggi pada orang yang terpapar langsung saat proses bongkar atau bakar.
Namun, orang yang tidak ikut membongkar pun bisa terdampak, misalnya lewat udara, debu, air, atau makanan yang sudah tercemar.
Pekerja bongkar informal
Pekerja yang membongkar perangkat tanpa alat pelindung diri menghadapi risiko berlapis. Ada debu dari komponen. Ada asap jika ada pembakaran. Ada kontak kulit dengan bahan tertentu.
Dampak yang sering dibahas meliputi gangguan pernapasan, iritasi kulit, serta gangguan organ tertentu seperti ginjal dan hati ketika paparan terjadi dalam jangka panjang.
Ada juga risiko yang lebih “sunyi”, seperti paparan logam berat yang tidak langsung terasa, tetapi dapat menumpuk dan menimbulkan masalah di kemudian hari.
Anak-anak dan ibu hamil
Anak-anak lebih rentan karena tubuhnya masih berkembang. Mereka juga sering lebih dekat dengan tanah dan debu saat bermain.
Jika tinggal dekat lokasi pembakaran atau bongkar informal, risiko paparan meningkat. Dampaknya yang sering dibahas adalah gangguan perkembangan dan gangguan saraf, terutama bila ada paparan timbal.
Masyarakat sekitar lokasi pengolahan yang tidak aman
Masyarakat sekitar bisa terpapar lewat asap dan debu, atau lewat air dan bahan pangan yang sudah terkena kontaminan.
Karena itu, isu sampah elektronik bukan cuma isu “pekerjaan”. Ini isu kesehatan publik.
Bagaimana risiko sering terjadi di lapangan
Risiko biasanya tidak datang dari satu keputusan besar. Risiko datang dari kebiasaan yang terlihat kecil.
Beberapa skenario yang sering terjadi:
- Perangkat elektronik kecil dibuang ke sampah rumah tangga campuran.
- Kabel dibakar untuk mengambil tembaga.
- Papan sirkuit dibongkar tanpa sarung tangan atau masker.
- Baterai disimpan bercampur, lalu bocor dan mencemari barang lain.
- Perangkat kantor menumpuk di gudang, lalu dijual sebagai rongsok tanpa pemilahan.
Jika Anda mengelola rumah tangga atau bisnis, bagian ini penting. Karena kontrol terbaik selalu ada di awal, sebelum perangkat masuk ke jalur yang salah.
Langkah praktis untuk menurunkan risiko
Tujuannya bukan membuat semuanya rumit. Tujuannya membuat alur yang aman dan mudah diulang.
Di rumah
- Sediakan satu wadah khusus untuk sampah elektronik kecil.
- Pisahkan baterai dan power bank, jangan dicampur dengan sampah lain.
- Jangan membakar kabel atau komponen elektronik dalam kondisi apa pun.
- Jika ada perangkat rusak, simpan utuh sampai ada jalur pengelolaan yang tepat.
Di kantor dan fasilitas
- Buat daftar aset dan jadwal rutin untuk memensiunkan perangkat.
- Pisahkan kategori: masih bisa dipakai, perlu perbaikan, dan sudah menjadi limbah.
- Simpan perangkat di area yang kering, diberi label, dan tidak bercampur dengan limbah lain.
- Hindari “bongkar sendiri” jika tidak ada prosedur dan perlindungan.
Dalam konteks industri di Indonesia, alur pengelolaan biasanya lebih kuat jika dipadukan dengan sistem waste management yang mencakup hazardous B3 dan non-hazardous waste. Pemilahan di sumber akan membuat proses berikutnya lebih aman dan terdokumentasi.
Profil singkat Limbah.id dan cara kami bekerja
Bagian ini ditulis untuk menambah kejelasan dan konteks. Banyak pembaca ingin tahu apakah tulisan ini hanya rangkuman, atau memang lahir dari praktik.
Berdasarkan pengalaman kami, risiko sampah elektronik sering membesar saat perangkat masuk ke jalur bongkar informal yang tidak punya kontrol debu dan emisi. Kami juga sering melihat perangkat menumpuk karena dianggap “nanti saja”. Saat akhirnya dikeluarkan, kondisinya sudah tercampur dan sulit ditelusuri. Di titik ini, keputusan kecil seperti pemilahan dan penyimpanan yang rapi dapat mengurangi risiko di hilir.
Limbah.id adalah one-stop environmental solution yang menyediakan layanan waste management, licensing, certification, dan laboratorium untuk mendukung industri. Kami menyediakan end-to-end waste management services, termasuk hazardous B3 dan non-hazardous waste, didukung Certified B3 Transport, Certified B3 Driver, dan Certified B3 Management. Untuk kebutuhan kepatuhan, kami menyediakan integrated document preparation and licensing services. Kami juga mengoperasikan environmental laboratory untuk testing dan monitoring. Untuk penguatan kapasitas tim, kami menyediakan certification training programs dengan real industry case studies dan regulatory updates. Dalam konteks circular economy solutions, kami juga menangani RDF Refuse-Derived Fuel conversion dan recycling untuk fraksi non-organik tertentu seperti plastic, paper, dan textiles.
Penutup
Sampah elektronik berisiko karena mengandung logam berat dan bahan kimia tertentu yang dapat mencemari tanah, air, dan udara, terutama saat dibakar atau dibongkar tanpa prosedur.
Dampak kesehatannya nyata, mulai dari gangguan pernapasan dan iritasi kulit sampai risiko pada organ dan sistem saraf dalam paparan jangka panjang. Kelompok yang paling rentan adalah pekerja bongkar informal, anak-anak, dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pengolahan yang tidak aman.
Berdasarkan pengalaman kami, langkah paling efektif biasanya bukan yang paling rumit. Mulailah dari pemilahan di sumber, simpan perangkat tetap utuh, dan pastikan sampah elektronik tidak masuk ke jalur pembakaran atau bongkar tanpa kontrol. Dari langkah kecil ini, risiko bisa turun banyak.




